3 Februari 2012

Sakit secara psikologis..

Saya tidak tau harus bercerita apa hari ini sejujurnya, perasaan saya beberapa hari ini kacau. entah kenapa. Saya sendiri tidak mengerti, mungkin sedikit ada hubungannya dengan kamu..

Hari ini banyak pekerjaan yang menanti saya sebenarnya. Selain itu juga hari ini banyak sekali tamu bapak yang datang, saya sibuk. Nah, salah satu dari tamu bapak hari ini adalah seorang konsultan, seorang wanita, dia berasal dari Universitas Gajah Mada.. kalau saya lihat sih umurnya kurang lebih sekitar 40 tahunan. Terlihat pintar. Namanya Ibu Dida. Saat datang kebetulan bapak sedang ke lapangan, lalu saya persilahkan ia menunggu di ruang tamu dan menawarkan minum. Selang beberapa saat, bapak akhirnya kembali dan mempersilakan Ibu Dida untuk masuk ke dalam ruangan. Suasana didalam ruangan saat mereka membicarakan masalah pekerjaan nampak tidak formal, selalu diselingi tawa dan canda. Ah, sepertinya dia orang yang menyenangkan, pikir saya. Seperti biasanya, setiap ada tamu saya harus menyiapkan snack dan makan siang. Namun karena hari ini hari jumat, waktu konsultasi pun terpotong oleh sholat jumat dan bapak meminta saya dengan Bu Lisna untuk menemani Ibu Dida didalam. Kami menuruti apa yang bapak minta.

Dugaan saya benar. Ibu Dida menurut saya termasuk orang yang pintar dan mudah membaur dengan orang lain. Disana kami berbicara tentang banyak hal. Awalnya hanya sekedar bertanya mengenai pekerjaan, daerah asal dan lain sebagainya. Maklumlah budaya orang Indonesia seperti itu bukan!? Ternyata beliau adalah seorang konsultan yang sedang membantu perusahaan saya dalam hal pengembangan SDM, berkaitan dengan pembangunan Dermaga.

Sampai akhirnya, Bu Lisna bertanya mengenai masalah pribadi yang dialami salah seorang temannya, urusan rumah tangga. Bu lisna bercerita bahwa temannya itu sedang mengalami masalah besar dimana rumah tangganya sudah dalam kondisi yang kacau balau. Suaminya selingkuh. Temannya nampak sudah kehabisan akal untuk menghadapi permasalahan tersebut, dia malah sempat terpikirkan untuk mengakhiri hidupnya. Masalahnya, perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya ini bukan untuk yang pertama kalinya. Beberapa kali ia juga sering melakukan hal yang sama, bahkan pernah membawa pacarnya itu kerumah, dan terakhir yang lebih parahnya lagi ia melakukannya dengan pembantu rumahnya sendiri. Ironi. Dari situlah permasalah ini menjadi besar. Istrinya depresi, dan mulai tidak bisa berpikir dengan sehat. Katakanlah, wanita mana sih yang melihat suaminya berselingkuh didepan mata sendiri yang tidak akan merasa depresi? Saya yang notabene belum punya suamipun nggak bisa membayangkannya. Ahhhhh. Selama ini, sewaktu ketahuan berselingkuh, suaminya selalu meminta maaf dengan berbagai cara dan berjanji akan berubah. Tapi nyatanya..tidak! Pada akhirnya, karena depresi istrinya sakit-sakitan. Terkadang seperti tidak sadarkan diri. Pikirannya kosong..

Setelah Bu Lisna menceritakan pokok permasalahnnya, Ibu Dida mencoba membantu atau mencoba memberikan saran dari pandangan psikolog.. Dia sebenarnya bukan psikolog spesialis urusan rumah tangga, tapi dia mencoba memberikan pandangannya secara umum. Saya memang belum berumah tangga, jadi bohong kalau saya bilang saya tau rasanya. Tapi setidaknya ini bisa menjadi suatu pembelajaran hidup bagi saya dikemudian hari. Seperti saya bilang di notes sebelumnya kan? Kita memang harus belajar dari pengalaman, bukan hanya pengalaman pribadi tapi juga pengalaman orang lain, kan?

Bu Dida bercerita bahwa ketika seseorang mengalami sakit secara psikologis, tidak akan pernah ada obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkannya. 'Sakit secara psikologis' tidak sama dengan sakit secara fisik yang dapat didiagnosa apa sakitnya, apa penyebabnya dan lalu dibuatkan resep obat yang bisa menyembuhkannya.. sakit psikologis itu tidak mudah diobati. Menurutnya, masalah yang dialami 'Si Istri' ini sudah sangat sangat parah. Dia sudah berulang kali dihianati tapi tetap saja kejadian yang sama terulang kembali, maka dari itu sampai hari ini dia sakit-sakitan. Sebenarnya sakit yang dialaminya itu bukan sakit secara fisik, tapi secara psikis yang pada akhirnya mengganggu secara fisik. Mungkin yang dia pikirkan, dimana saat suaminya ketauan berselingkuh lalu minta maaf dan berjanji akan berubah, dia pikir semua itu nantinya akan hilang dengan sendirinya dan akan berjalan baik-baik saja. Toh, setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan berhak mendapat kesempatan kedua, kan? Saya yakin kamupun yang membaca ini akan berpikiran hal yang sama.

Tapi nyatanya tidak bisa seperti itu.. Selama ini ketika kita mengalami sakit secara psikologis, sakit hati atau hal sejenisnya (mungkin kasusnya bisa terjadi pada si istri, orang-orang diluaran sana dan bahkan saya) kita membiarkan diri kita bergelut dengan rasa sakit itu dengan berpura-pura memaafkannya dan berpikir bahwa ia akan berubah.. tapi pada kenyataannya merubah seseorang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Seseorang akan berubah hanya dengan 2 hal, yang pertama karena adanya peristiwa fundamental yang terjadi dalam hidupnya; contohnya dia kecelakaan, lalu cacat, maka ia akan berubah, pasti; yang kedua karena ada keinginan yang sangat besar dari dalam diri orang itu sendiri. Selain itu, jangan harap anda dapat merubah seseorang.

Ketika kita sakit secara psikologis, adakalanya satu-satunya obat adalah dengan memutus sumbernya.. Mungkin kita tidak akan sepenuhnya melupakan rasa sakit yang telah orang lain buat dalam hati kita apalagi memaafkannya, tapi dengan memutus sumbernya, setidaknya perlahan kita belajar untuk berdamai dengan masa lalu.. Dalam kasus 'si istri' ini, Ibu Dida tidak menyuruh untuk sesegera mungkin menggugat cerai suaminya, tapi akan lebih baik jika langkah itulah yang dilakukan. Ibu Dida mengatakan bahwa ketika seseorang berbohong untuk pertama kalinya mungkin kita masih bisa memaafkannya, mungkin banyak orang termasuk anda yang akhirnya memilih untuk berbohong dalam keadaan terdesak, tapi jika hal itu terjadi untuk kedua ketiga bahkan keempat kali? Itu namanya tabiat!

Menurut pendapat saya sih, ya mungkin memang seseorang berbohong dengan alasannya masing-masing.. tapi sebenarnya dengan alasan apapun berbohong merupakan hal yang tidak akan pernah bisa dibenarkan.. walaupun itu dengan alibi untuk kebaikan.

Sebenarnya ketika dua orang menjalin hubungan, baik itu pacaran, pertemanan terlebih rumah tangga, adalah wajar ketika terjadi banyak perbedaan. Menyatukan dua kepala, dua pemikiran, dua sifat yang berbeda itu bukan hal yang mudah. Justru dengan perbedaan itulah seharusnya kita bisa saling melengkapi. Kembali lagi sebelumnya, seharusnya sih begitu.. Mungkin itu masalahnya saya pikir.. Ketika sesuatu sudah mulai asing dan tidak membuat nyaman, saat itulah mungkin kita harus pindah, ke tempat kosong ataupun ke tempat lain yang lebih baik untuk diri kita. Dalam kasus diatas saya rasa suaminya tidak salah, istrinya pun tidak salah. Yang kurang tepat itu adalah karena ketika dua hal yang dirasa tidak lagi saling melengkapi dan membuat nyaman tapi tetap dipertahankan untuk terus bersama..

Pasti banyak dari kita, termasuk saya sendiri, yang selalu mempertanyakan setiap kejadian yang terjadi dalam hidup kita. Kenapa begini ya?! Kenapa begitu ya?! Bagaimana bisa dia yang dulunya begini jadi begitu ya?! Hmmm.. mungkin seharusnya kita tidak mempertanyakan kenapa, karena memang mungkin sudah begini jalannya, sudah begini seharusnya.. Banyak hal yang pasti akan berubah seiring berjalannya waktu. Dan satu hal yang pasti, kita tidak akan pernah bisa melawan waktu.

Hmmm, satu hal, the more pain in our life, the better person become we are! Life is never flat! Trust me! Life is up and down. Saya sendiri sudah pernah mengalaminya! And God works in a such mysterious way.. So, we just keep the faith. To be honest, being so sad and desperate can be so fun sometimes (yap, kamu pasti belum sadar!), In the end when all your problem dissapear, you can laugh loudly and say 'what a funny tragedy I've been trhough!'. I believe that everyone needs problem to make them stronger in facing their life.


 Sooooooooo, just smile and the world will smile with you :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Selamat membaca blog ini, saya harap tulisan-tulisan didalamnya dapat berguna atau setidaknya layak dibaca.


Terima kasih sudah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...